tugas

Posted: Juli 8, 2012 in Uncategorized

KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah yang masih memberikan kesehatan dan kesempatannya kepada kita semua, terutama kepada penulis. Sehingga penulis dapat menyelesaikan masalah ini.Berikut ini, penulis persembahkan sebuah makalah (karya tulis) yang berjudul “SPIRITUAL”.
Penulis mengharapkan makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca semua, terutama bagi penulis sendiri.Kepada pembaca yang budiman, jika terdapat kekurangan atau kekeliruandalam makalah ini, penulis mohon maaf, karna penulis sendiri dalam tahap belajar.
Dengan demikian, tak lupa penulis ucapkan terimakasih, kepada parapembaca.Semoga Allah memberkahi makalah ini sehingga benar-benar bermanfaat.

Sumenep ,01 Juli 2012

Penulis

DAFTAR ISI
Kata Pengantar 1
Daftar Isi 2
Bab I Pendahuluan
a. Latar Belakang 3
b. Tujan 3
c. Manfaat 3
BAB II Landasan Teori 4
BAB III Pembahasan 7
Bab IV Kesimpulan 12
Daftar Pustaka 13

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Dalam kehidupan, kita mungkin saja memiliki pekerjaan yang kita cintai, teman-temanbaik, mobil bagus, dan segala hal yang seharusnya membuat kita senang. Tapi, entah bagaimana,hal-hal tersebut tidaklah cukup, dan banyak orang yang masih merasakan kekosongan dankesepian. Akan tetapi mengapa hanya sedikit orang yang menemukan kebahagiaan dankedamaian?Dunia yang modern dan materialis biasanya memiliki ciri-ciri adanya kekurangankecerdasan emosional dan spiritual, karena hampir seluruh dari penghuni dunia menyembahmaterialisme dan gratifikasi emosi dan fisik yang instan. Akhirnya makanan, minuman, obat-obatan, judi, seks menjadi pelarian untuk memenuhi diri dan menyingkirkan rasa kosongtersebut. Hal-hal tersebut terjadi akibat kurangnya moral, keluarga, terutama karena kekurangankedamaian batin dan makna hidup.Tipikal manusia modern sebagaimana yang dikemukakan oleh Frankl (Koeswara, 1992)bahwa sebagian besar masyarakat sekarang mengidap neurosis kolektif. Ciri dari gejala tersebutadalah:1. Sikap masa bodoh terhadap hidup, yaitu suatu sikap yang menunjukkanpesimisme dalam menghadapi masa depan hidupnya.2. Sikap fatalistik terhadap hidup, menganggap bahwa masa depan sebagaisesuatu yang mustahil dan membuat rencana bagi masa depan adalah kesia-siaan.3. Pemikiran konformis dan kolektivis. Yaitu cenderung melebur dalammasa dan melakukan aktivitas atas nama kelompok.4. Fanatisme, yaitu mengingkari kelebihan yang dimiliki oleh kelompok atau orang lain.
Dengan ciri-ciri tersebut manusia berjalan menuju penyalahartian dan penyalahtafsirantentang dirinya sendiri sebagai sesuatu yang tidak lain dari refleks-refleks atau kumpulandorongan (biologisme), dari mekanisme-mekanisme psikis (psikologisme) dan produk lingkungan ekonomis (sosiologisme). Dengan ketiga konteks tersebut maka manusia tidak lainadalah mesin. Kondisi tersebut merupakan penderitaan spiritual bagi manusia. Manusia tidak memiliki arah dan tujuan yang jelas dalam menjalani hidupnya.
2. Tujuan
a.Dapat memahami dan menjelaskan kembali definisi spiritual experience, spiritualintelligence, dan kaitannya dalam pengembangan jiwa manusia.
b.Mengetahui cara untuk mengembangkan spiritual experience sebagai bagian dari spiritualintelligence.
3. Manfaat
Mampu menerapkan spiritual intelligence dalam kehidupan sehari-hari

BAB II
LANDASAN TEORI

Spiritual IntelligenceSpiritual Intelligence (dalam bahasa Indonesia kecerdasan spiritual) memilikipengertian yang beragam tergantung bagaimana kita mengartikannya. SpiritualIntelligence merupakan gabungan dua kata, yaitu Spiritual dan Intelligence. Masing-masing kata tersebut sendiri memiliki pengertian yang berbeda. Kataspiritual berasaldari kata dalam bahasa Inggris yaitu spirit .
Dalam kamus bahasa yangberjudul Salim’s Ninth Collegiate English-IndonesianDictionary, spirit memiliki 10 artiuntukkata benda yaitu yang berkaitan denganmoral ,semangat , dansukma, dan beberapa arti lainnya untuk kata kerja atau kata sifat. Kataspiritual sendiri dapat dimaknai sebagai hal-hal yang bersifat spirit atau berkenaandengan spirit. Sehingga dapat diartikan spiritual sebagai suatu hal yang berkaitan dengankemampuan dalam membangkitkan semangat , misalnya. Atau bagaimana seseorangbenarbenar memperhatikanjiwa atau sukma dalam menyelenggarakan kehidupan dibumi. Atau, yang lain, apakah perilakunya merujuk ke sebuah tatanan moral yang benar-benar luhur dan agung?.Dalam buku terbarunya, SC, Spiritual Capital, Zohar dan Marshall mengatakanbahwa spiritual berasal dari bahasa latin spiritus yang berarti prinsip yang memfasilitasisuatu organisme, bisa juga dari bahasa latin sapientia (sophiadalam bahasa yunani) yangberarti kearifan
—kecerdasan kearifan (wisdom intelligence).Intelligence atau kecerdasan, berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesiamemiliki pengertian perbuatan mencerdaskan; kesempurnaan perkembangan akal budimanusia seperti ketajaman pikiran, dll.Menurut Zohar dan Marshall, kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilakudan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilaibahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yanglain.
Penulis buku Tony Buzan mendefinisikan kecerdasan spiritual sebagai hal yangberkaitan dengan menjadi bagian dari rancangan segala sesuatu yang lebih besar, meliputi“melihat suatu gambaran secara menyeluruh”. Sementara itu, kecerdasan spiritualmenurut Stephen R. Covey adalah pusat paling mendasar di antara kecerdasan yang lain,karena dia menjadi sumber bimbingan bagi kecerdasan lainnya. Kecerdasan spiritualmewakili kerinduan akan makna dan hubungan dengan yang tak terbatas.Dari berbagai definisi kecerdasan spiritual diatas, dapat diambil benang merahbahwa kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang sudah ada dalam setiap manusia sejak lahir yang membuat manusia menjalani hidup ini dengan penuh makna, selalumendengarkan suara hati nuraninya, tak pernah merasa sia-sia, semua yang dijalaninyaselalu bernilai. Jadi, kecerdasan spiritual dapat membantu seseorang untuk membangundirinya secara utuh. Semua yang dijalaninya tidak hanya berdasarkan proses berfikir rasiosaja tapi juga menggunakan hati nurani. Karena hati nurani adalah pusat kecerdasanspiritual. Dalam konteks itulah, hati menjadi elemen penting dalam kecerdasan spiritual.Bahkan, pekik kecerdasan spiritual justru terletak pada suara hati nurani. Inilah suarayang relatif jernih dalam hiruk-pikuk kehidupan kita, yang tak bisa ditipu oleh siapapun,termasuk diri kita sendiri. Kebenaran sejati, sebenarnya lebih terletak pada pada suarahati nurani, yang menjadi pekik sejati kecerdasan spiritual. karenanya, kecerdasanspiritual menyingkap kebenaran sejati yang lebih sering tersembunyi di tengah adegan-adegan hidup yang serba palsu dan menipu.Namun kecerdasan spiritual (spiritual intelligence) tidaklah sama dengan spiritualquotient. Pengertian quotient sendiri lebih mengacu kepada angka dan nilai berkaitandengan kajian ilmiah-matematis. Sementara spiritual intelligence sendiri lebih mengarahkepada usaha, tindakan, proses, dan pemahaman.Menurut DR Jalaluddin Rakhmat, di Indonesia kecerdasan spiritual sangat seringdiartikan rajin salat, rajin beribadah, rajin ke masjid, pokoknya yang menyangkut agama.Pengetahuan dasar yang perlu dipahami adalah kecerdasan spiritual tidak mestiberhubungan dengan agama (institusi) biarpun kedua hal ini saling berkaitan. Kecerdasanspiritual tidak bergantung pada budaya atau nilai. Tidak mengikuti nilai-nilai yang ada,tetapi menciptakan kemungkinan untuk memiliki nilai-nilai itu sendiri. Kecerdasanspiritual adalah fasilitas yang berkembang selama jutaan tahun yang memungkinkan otak untuk menemukan dan menggunakan makna dalam memecahkan persoalan. Utamanya
persoalan yang menyangkut masalah eksistensial, yaitu saat seseorang secara pribaditerpuruk, terjebak oleh kebiasaan, kekhawatiran dan masalah masa lalu akibat penyakitdan kesedihan. Dengan dimilikinya kecerdasan spiritual seseorang mampu mengatasimasalah hidupnya dan berdamai dengan masalah tersebut. Kecerdasan spiritual memberisesuatu rasa yang “dalam” pada diri seseorang menyangkut perjuangan hidup.2. Spiritual ExperienceSpiritual experience (pengalaman spiritual) adalah pengalaman akan sesuatuyang diluar batas kemampuan penafsiran panca indera, pikiran dan intelijensi. Experience(pegalaman) adalah sesuatu yang dapat ditafsirkan melalui media panca indera, pikirandan intelijensi. Misalnya saja pengalaman memakan makanan favorit. Perhatikan gambar berikut untuk dapat membedakan spiritual experience dengan experience.Pengalaman yang dapat ditafsirkan oleh panca indera dapat dirujuk kepadapengertian pengalaman spiritual selama alasan dibalik pengalaman tersebut diluar kemampuan intelijensi manusia. Akan tetapi dalam pembahasan kali ini, pengertianspiritual experience erat kaitannya dengan spiritual intelligence. Berdasarkan situs yangtercantum pada daftar pustaka, pengertian spiritual experience bisa berarti
a subtle, bodily feeling with vague meanings that brings new, clearer meanings involving atranscendent growth process.
Spiritual experience sangat penting sebagai bagian dari pengembangan spiritualintelligence. Berikut adalah beberapa alasan mengapa spiritual experience penting:1. Mereduksi ego dengan menekankan pada kehebatan Tuhan2. Kesadaran proses spiritual3. Merupakan suatu tahapan penting dalam pengembangan spiritualPengalaman spiritual adalah hal yang berbeda dengan pengalaman religius,seperti halnya beda antara spiritual dengan religius. Pengalaman religius merupakanbagian dari pengalaman spiritual, akan tetapi pengalaman spiritual belum tentu adalahpengalaman religius. Pengalaman religius lebih mengarah kepada pengalaman akankehadiran Tuhan

BAB III
PEMBAHASAN

Tipikal manusia modern yang mengalami neurosis kolektif memiliki satu permasalahan yangsama, yaitu krisis kecerdasan spiritual. Ciri-ciri paling menonjol dari krisis tersebut adalah merekamengalami kehampaan dan kesepian dalam hidupnya. Dari krisis kecerdasan spiritual, dapat ditarik kesimpulan bahwa mereka yang mengalami neurosis kolektif tidak mengetahui makna hidup serta tidak memiliki semangat hidup, sehingga membawa mereka menuju tindakan-tindakan “tidak masuk akal”seperti kasus bunuh diri karena kesepian atau masalah-masalah lainnya, seks bebas, konsumsi obat-obatanterlarang, gaya hidup bebas, dan sebagainya. Mereka rata-rata memposisikan diri mereka sebagai korban“kejahatan dunia”, seperti misalnya “Kenapa saya dilahirkan pada keluarga yang seperti ini?” dansebagainya. Ciri-ciri manusia dengan mental “korban kejahatan dunia” dapat dilihat perbandingannyadengan mereka yang cerdas spiritual dalam tabel berikut:Sebagai contoh, mari perhatikan kasus berikut dengan seksama!

Seorang kepala keluarga, sebut saja Bapak A memiliki seorang istri dan dua orang anak. Bapak A menjalankan bisnis barang tambang yang sedang berkembang. Suatu hari, Bapak A diajak bekerjasama oleh seorang rekan lamanya. Profit yang dijanjikan begitu menggiurkan sehingga Bapak A setujuuntuk menjalankan proyek tersebut. Namun sayangnya, rekan lamanya tersebut menipu Bapak A danmembawa kabur uang modal yang jumlahnya besar dan membuat Bapak A dan perusahaannya jatuhbangkrut. Istri Bapak A yang sudah terbiasa dalam gaya hidup konsumerialisme merasa tertekan denganperubahan drastis yang terjadi pada keluarganya. Tekanan ekonomi membawanya pada stressberkelanjutan, membuatnya berani bertindak nekat, membunuh seluruh anggota keluarganya, kemudianmembunuh dirinya sendiri.
Seseorang dengan kecerdasan spiritual tidak akan melakukan tindakan bodoh seperti bunuh diri,karena dia dapat menerima masalah/penderitaan dan memaknai masalah/penderitaan tersebut bukansebagai akhir, dan terus berusaha bangkit dan tidak putus asa.Spiritual intelligence (kecerdasan spiritual) adalah solusi untuk permasalahan tersebut. Denganmenerapkan kecerdasan spiritual dalam kehidupan sehari-hari, subjek dapat memperoleh manfaat-manfaat sebagai berikut:
1.”Menyalakan” manusia untuk menjadi manusia seperti adanya sekarangdan memberi potensi untuk “menyala lagi”—untuk tumbuh dan berubah, serta menjalanilebih lanjut evolusi potensi manusiawi
2.Menjadi kreatif, luwes, berwawasan luas, atau spontan secara kreatif.
3.Mampu berhadapan dengan masalah eksistensial—yaitu saat merasaterpuruk, terjebak oleh kebiasaan, kekhawatiran, dan masalah masa lalu akibat penyakit dankesedihan. Kecerdasan spiritual menjadikan sadar bahwa memiliki masalah setidak-tidaknyabisa berdamai dengan masalah tersebut. Kecerdasan spiritual memberi semua rasa yang”dalam” menyangkut perjuangan hidup.
4.Pedoman saat berada pada masalah yang paling menantang. Masalah-masalah eksistensial yang paling menantang dalam hidup berada di luar yang diharapkan dandikenal, di luar aturan-aturan yang telah diberikan, melampaui masa lalu, dan melampauisesuatu yang dihadapi. Kecerdasan spiritual adalah hati nurani kita.
5.Menjadi lebih cerdas secara spiritual dalam beragama. Kecerdasanspiritual membawa ke jantung segala sesuatu, ke kesatuan di balik perbedaan, ke potensi dibalik ekspresi nyata. Kecerdasan spiritual mampu menghubungkan dengan makna dan rohesensial di belakang semua agama besar. Seseorang yang memiliki kecerdasan spiritualtinggi mungkin menjalankan agama tertentu, namun tidak secara picik, ekslusif, fanatik, atauprasangka.
6.Menyatukan hal-hal yang bersifat intrapersonal dan interpersonal, sertamenjembatani kesenjangan antara diri sendiri dan orang lain. Daniel Goleman telah menulistentang emosi-emosi intrapersonal atau di dalam diri, dan emosi-emosi interpersonal—yaituyang sama-sama digunakan untuk berhubungan dengan orang lain. Namun, kecerdasanemosional semata-mata tidak dapat membantu untuk menjembatani kesenjangan itu.Kecerdasan spiritual membuat seseorang mempunyai pemahaman tentang siapa dirinya danapa makna segala sesuatu baginya, bagaimana semua itu memberikan suatu tempat di dalamdirinya kepada orang lain dan makna-makna mereka.
7.Mencapai perkembangan diri yang lebih utuh karena setiap orangmemiliki potensi untuk itu. Masing-masing membentuk suatu karakter melalui gabunganantara pengalaman dan visi, ketegangan antara apa yang benar-benar dilakukan dan hal-halyang lebih besar dan lebih baik yang mungkin dilakukan. Pada tingkatan ego murni adalahegois, ambisius terhadap materi, serba-aku, dan sebagainya. Akan tetapi, setiap orangmemiliki gambaran-gambaran transpersonal terhadap kebaikan, keindahan, kesempurnaan,kedermawanan, pengorbanan, dan lain-lain. Kecerdasan spiritual membantu tumbuh melebihiego terdekat diri dan mencapai lapisan yang lebih dalam yang tersembunyi di dalam diri.Kecerdasan spiritual membantu seseorang menjalani hidup pada tingkatan makna yang lebihdalam.
8.Mampu berhadapan dengan masalah baik dan jahat, hidup dan mati, danasal-usul sejati dari penderitaan dan keputusasaan manusia. Seseorang terlalu seringmerasionalkan begitu saja masalah semacam ini, atau terhanyut secara emosional atau hancur karenanya. Agar memiliki spiritual secara utuh, terkadang harus melihat wajah neraka,mengetahui kemungkinan untuk putus asa, menderita, sakit, kehilangan, dan tetap tabahmenghadapinya.
9.M. Quraish Shihab dalam bukunya yang berjudul Dia Ada di Mana-manamengatakan bahwa kecerdasan spiritual melahirkan iman yang kukuh dan rasa kepekaanyang mendalam. Kecerdasan yang melahirkan kemampuan untuk menemukan makna hidup,memperhalus budi pekerti, dan dia juga yang melahirkan indra keenam bagi manusia

Kecerdasan spiritual dapat berkembang melalui salah satunya pengalaman spiritual.Bagaimanapun, pengalaman adalah guru terbaik. Mengembangkan pengalaman spiritual (spiritualexperience) bukanlah suatu hal yang dapat dilakukan seperti sedang membuat kue, cukup mengikutiinstruksi maka kue akan jadi. Develop spiritual experience membutuhkan proses panjang yang semuanyadimulai dan diakhiri oleh diri sendiri. Tidak ada instruksi yang benar-benar tepat untuk mengembangkanpengalaman spiritual karena semuanya kembali kepada masing-masing individu, tergantung dari individuitu sendiri. Pengalaman spiritual bisa datang kapan saja tanpa diminta dan dalam bentuk pengalaman yangberagam. Semua tergantung dari bagaimana individu tersebut menanggapi kejadian yang dialami.Ada orang-orang yang dapat lebih memaknai hidup mereka dan berubah dalam setiap aspek kehidupannya menjadi lebih baik melalui pengalaman spiritual berupa pengalaman hampir mati,pengalaman yang mempertanyakan hati nurani (antara moral dan logika), dan pengalaman-pengalamanlainnya. Namun ada juga mereka yang mengalami misalnya pengalaman hampir mati, namun tidak berhasil/tidak mau memaknainya sebagai suatu “pelajaran hidup” dan tetap menjalani hidupnya yangpenuh dengan neurosis kolektif. Sebagai contoh, pengalaman spiritual berikut dikutip dari buku karanganTony Buzan yang berjudul The Power of Spiritual Intelligence.
Teri and his second life.A good friend of mine, Teri, was a very fit and athletic man, a cyclist, rock-climber and caver.The end of his “first life” came when climbing down the sheer face of a smuggler’s cave. He grabbed asmall outcrop of rock and it came away in his hand. His last concious moments were spent realizing that he was falling backwards 180 feet, cracking his head on a rocky just on the way down, and ending up in abloody heap at the bottom with a smashed knee, broken leg, foot, arm, ribs, a punctured lung and acracked skull.Teri’s “second life” began in hospital when he regained conciousness and realized that he had been “born again”. Everything appeared to him much brighter, more memorable and meaningful. Thirtyyears on Teri still reports that being given a “second life” comprehensively changed his attitude to everyday in that new life. Each day is a gift, and he spends each day enjoying every moment of it. He is knownas a wonderfully caring and compassionate man, with a gift for putting others at ease with his generosityand humour.As he so succinctly puts it: “Well, when you get a second chance at life, it does make you seethings differently and appreciate what you’ve got a lot more, doesn’t it?”

Sekarang tergantung dari Anda sebagai individu dalam memaknai setiap pengalaman dari hidupAnda. Akankah Anda lebih memaknai hidup Anda melalui pengalaman tersebut ataukah pengalamantersebut Anda anggap angin lalu, karena sebenarnya pengalaman sekecil apapun dapat menjadipengalaman spiritual yang dapat “mengubah” hidup Anda.Selain mengandalkan pengalaman spiritual, mengembangkan kecerdasan spiritual dapat ditempuhdalam tujuh langkah berikut yang dikemukakan oleh Zohar dan Marshall, yaitu:
1.Seseorang harus menyadari di mana dirinya sekarang
2. Merasakan dengan kuat bahwa dia ingin berubah
3. Merenungkan apakah pusatnya sendiri dan apakah motivasinya yang paling dalam
4. Menemukan dan mengatasi rintangan
5. Menggali banyak kemungkinan untuk melangkah maju
6. Menetapkan hati pada sebuah jalan
Dan akhirnya, sementara melangkah di jalan yang dipilih sendiri, harus tetap sadar bahwamasih ada jalan-jalan yang lain.Biasanya, yang menghambat perkembangan pengalaman spiritual dan kecerdasan spiritualindividu adalah Paradigma. Paradigma adalah cara memandang sesuatu, pandangan, kerangka acuan, ataukeyakinan. Paradigma sering kali keliru, sehingga menciptakan keterbatasan-keterbatasan. Secara umum,paradigma dibagi ke dalam tujuh jenis (Ginanjar), yaitu:
1. Prasangka
2. Prinsip-prinsip hidup
3. Pengalaman
4. Kepentingan dan prioritas
5. Sudut pandang
6. Pembanding
7. Literatur
Kecerdasan spiritual yang berkembang dengan baik dapat menjadikan seseorang memiliki”makna” dalam hidupnya. Dengan “makna” hidup ini seseorang akan memiliki kualitas “menjadi”, yaitusuatu modus eksistensi yang dapat membuat seseorang merasa gembira, menggunakan kemampuannyasecara produktif dan dapat menyatu dengan dunia. Hasil dari pengembangan pengalaman spiritual dankecerdasan spiritual yang baik dapat terlihat dalam tanda-tanda berikut:
1.Kemampuan bersikap fleksibel (adaptif secara spontan dan aktif).
2.Tingkat kesadaran diri yang tinggi.
3.Kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan.
4.Kemampuan untuk menghadapi dan melampaui rasa sakit.
5.Kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai.
6.Keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu.
7.Kecenderungan untuk melihat keterkaitan antara berbagai hal (holistik, integralistik).
8.Kecenderungan nyata untuk bertanya “mengapa?” atau “bagaimana jika” untuk mencarijawaban-jawaban mendasar.
9.Mandiri.
10. Aktif dan produktif.
11.Memiliki kemudahan untuk bekerja melawan konvensi.
12.Senang berbuat baik.
13.Senang menolong orang lain.
14.Telah menemukan tujuan hidupnya.
15.Punya sense of humor yang baik.
Contoh sikap dan tindakan seseorang dengan kecerdasan spiritual yang berkembang:1. Menghargai lingkungan dan keragamannya yang unik dan bernilai2. Memperlakukan semuanya dengan baik, termasuk benda mati

BAB IV
KESIMPULAN

Dalam kehidupan, kita mungkin saja memiliki pekerjaan yang kita cintai, teman-teman baik,mobil bagus, dan segala hal yang seharusnya membuat kita senang. Tapi, entah bagaimana, hal-haltersebut tidaklah cukup, dan banyak orang yang masih merasakan kekosongan dan kesepian. Kecerdasanspiritual adalah kecerdasan yang sudah ada dalam setiap manusia sejak lahir yang membuat manusiamenjalani hidup ini dengan penuh makna, selalu mendengarkan suara hati nuraninya, tak pernah merasasia-sia, semua yang dijalaninya selalu bernilai. Jadi, kecerdasan spiritual dapat membantu seseoranguntuk membangun dirinya secara utuh. Untuk dapat mengembangkan kecerdasan spiritual, salah satu carayang dapat ditempuh adalah dengan mengembangkan/meningkatkan pengalaman spiritual. Pengalamanspiritual dapat dirasakan dalam berbagai kegiatan/kejadian/pengalaman dalam kehidupan sehari-hari.Semua tergantung dari bagaimana individu tersebut memaknai kegiatan/kejadian/pengalaman tersebut.Bersediakah individu tersebut untuk “membuka diri” untuk merasakan pengalaman spiritual? Seiringdengan proses panjang, pengalaman spiritual akan meningkatkan kecerdasan spiritual sehingga kita akanmenjadi pribadi yang lebih baik, memaknai hidup, dan lebih terarah

DAFTAR PUSTAKA

Buzan, Tony. (2001). The Power of Spiritual Intelligence: 10 ways to tap into your spiritualgenius. London: Thorsons.Koeswara, E. 1992. Logoterapi: Psikoterapi Viktor Frankl. Yogyakarta: Kanisius Fromm, E.1987. Memiliki dan Menjadi: dua modus eksistensi. Alih Bahasa: F.Soesilo- Hardo. Jakarta: LP3ESTim CB. (2010). CB: Spiritual Development. Jakarta: Binus University.Zohar, D. & Marshall, I. 2000. SQ: Spiritual Intelligence-The Ultimate Intelligence. Alih Bahasa:Rahmani Astuti dkk. Bandung: Mizan Media Utama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s